Sejarah Indonesia....... A to Z


 

Makam WR. Soeprtman

W.R. Soepratman dan Penjaga Makamnya
"Saya terharu, betapa orang sebesar dia harus mengakhiri hidupnya dalam kesepian dan kesengsaraan. Hidupnya sungguh tidak seindah lagunya," kata Megawati Sukarnoputri soal WR Soepratman.

Siapa tak kenal lagu kebangsaan Indonesia Raya?. Namun adakah yang kenal dekat dengan penciptanya, Wage Rudlof Soepratman? Mungkin hanya segelintir orang yang mengenalnya. Ini karena nama W.R. Soepratman memang jarang disebut-sebut, kecuali pada saat-saat bersejarah seperti HUT ke-58 Republik Indonesia. Untuk mengenang jasa beliau, SCTV menayangkan sedikit profil W.R. Soepratman dan kehidupan penjaga makamnya di Surabaya, Jawa Timur, Ahad (17/8).

Wage Soepratman lahir 9 Maret 1903 di Dusun Trembelang, Kelurahan Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Dia anak ke tujuh dari Keluarga Jumeno Senen Sastrosuharjo, yang lahir pada pasaran Wage. Dua bulan kemudian, Wage Soepratman dibawa pindah ke Tangsi Meester Cornelis Jatinegara, Jakarta Timur.

Beberapa tahun kemudian, Wage Soepratman melanjutkan pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS)--sekolah dasar Belanda. Dia diangkat anak oleh kakak iparnya, Sersan Van Eldik. Kakak iparnya jugalah yang memberi tambahan nama Rudolf, agar bisa terus melanjutkan sekolah hingga lulus. Sejak saat itu, namanya menjadi Wage Rudolf Soepratman.

Pada tahun 1924, WR Soepratman pergi ke Bandung, Jawa Barat. Ia menjadi wartawan koran Kaum Muda. Dia juga ikut memperjuangkan cita-cita kebangsaan dalam bidang komunikasi massa. Sesekali W.R. Soepratman bermain biola, yang juga menjadi hobinya. Dengan biola inilah, dia menciptakan lagu Indonesia Raya yang diperkenalkannya langsung pada Kongres Pemuda di Jakarta, 28 Oktober 1928. Saat itu, Indonesia Raya masih disebut sebagai lagu kebangsaan. W.R. Soepratman juga menciptakan lagu Ibu Kita Kartini, Di Timur Matahari, Bangunlah Wahai Kawan, dan Matahari terbit.

Setelah dikumandangkan 1928, pemerintah kolonial Hindia Belanda melarang penyebutan lagu kebangsaan bagi Indonesia Raya. Belanda ternyata gentar dengan konsep kebangsaan Indonesia. Mereka lebih suka menyebut bangsa Jawa, bangsa Sunda, atau bangsa Sumatra. Mereka juga melarang penggunaan kata Merdeka...Merdeka...dalam lagu Indonesia Raya. "Untuk apa ada lagu kebangsaan bagi sebuah bangsa yang tidak ada," kata Jonkheer de Fraeff, Gubernur Jenderal Hindia Belanda ketika itu. Hebatnya, semakin dilarang Belanda, kian kuatlah Indonesia Raya menjadi penyemangat dan perekat bangsa Indonesia.

Sayangnya, tujuh tahun sebelum Indonesia merdeka, 17 Agustus 1945, WR Soepratman terlebih dulu berpulang. Jenazahnya dimakamkan di Jalan Kenjeran Surabaya. Lebih menyedihkan lagi, W.R. Soepratman meninggal dalam kondisi menyedihkan. Dia hidup dalam kesepian dan kesengsaraan. "Harus saya akui, saya menitikkan air mata ketika membaca bagian yang mengisahkan akhir hayat W.R. Soepratman, pencipta lagu kebangsaan kita. Saya terharu, betapa orang sebesar dia harus mengakhiri hidupnya dalam kesepian dan kesengsaraan. Hidupnya sungguh tidak seindah lagunya," kata Presiden Megawati Sukarnoputri, suatu ketika.

Kesengsaraan inilah yang juga sempat terlihat di makam W.R. Soepratman. Beberapa waktu silam, makamnya terlihat kotor dan kusam. Untungnya, Dinas Pertamanan Kota Surabaya merenovasi makam W.R. Soepratman. Renovasi makam menghabiskan Rp 500 juta. Sumber dana berasal dari Pemerintah Provinsi Jatim, Pemerintah Kota Surabaya, Bank Indonesia, dan bantuan sejumlah pihak.

Pemerintah setempat juga membangun patung W.R. Soepratman sambil menggesek biola di area makam. Patung itu terbuat dari perunggu. Di sana dibangun ruang musik dan dinding berlatar belakang tulisan perjalanan hidup W.R. Soepratman serta syair lagu Indonesia Raya. Sejatinya, makam yang sempat terbengkalai, kini sudah terlihat cantik. Lampu penerang membuat makam tak lagi terlihat gelap pada malam hari.

Bukan hanya itu. Pemerintah juga menganugerahkan Bintang Mahaputra secara anumerta kepada W.R. Soepratman. Wajahnya kini diabadikan dalam mata uang rupiah pecahan Rp 50 ribu. Masyarakat pun menghormatinya dengan memberi nama Jalan W.R. Soepratman di hampir setiap kota besar di Indonesia. Belakangan pemerintah menjadikan tanggal lahir W.R. Soepratman sebagai Hari Musik Indonesia [baca: Presiden Mencanangkan Hari Musik Nasional].

Kendati begitu, nasib penjaga makam W.R. Soepratman tetap saja sengsara. Mat Tamri, yang sudah menjaga makam selama 41 tahun, kini hanya menerima gaji Rp 150 ribu per bulan. Ironisnya, gaji tersebut baru bisa diambil dua bulan sekali. Untuk menambah penghasilan, Mat Tamri terpaksa berjualan rokok di sekitar makam. "Pada tahun 1963, gaji saya hanya Rp 25 per bulan," kata Mat Tamri, lirih.

Menurut Mat Tamri, sebenarnya dia hanya meneruskan pekerjaan ayahnya. Saat ayahnya meninggal, dia masih berusia 22 tahun. Namun, bapak satu anak dan kakek satu cucu ini tak pernah menyesal menjaga makam W.R. Soepratman. Sebaliknya, dia merasa bangga dengan pekerjaannya ini. Melalui SCTV, Mat Tamri berharap, di hari kemerdekaan ini, sebaiknya pemerintah tak hanya memperhatikan para pahlawan nasional, tapi juga bisa meningkat kesejahteraan orang-orang seperti dirinya.(ULF/Tim Liputan 6 SCTV)

sumber : Liputan 6
 
wr-supratman-grave-01 wr-supratman-grave-02 wr-supratman-grave-03
wr-supratman-grave-04 wr-supratman-grave-05 wr-supratman-grave-08
wr-supratman-grave-06wr-supratman-grave-07 wr-supratman-grave-09 wr-supratman-grave-10
wr-supratman-grave-12 wr-supratman-grave-13 wr-supratman-grave-14
wr-supratman-grave-15 wr-supratman-grave-16  
Makam W.R. Soepratman Profil W.R. Soepratman
Sumber LINK:
  1. http://www.eastjava.com/tourism/surabaya/wr-soepratman-tomb/index.html
  2. http://www.liputan6.com/view/3,60522,1,0,1185820410.html
 
       
Visits :
905 Today-Total 429950

Halaman ini akan terus di update

Bila pihak pemegang copyright keberatan atas publikasi ini, materi pada halaman ini akan segera dihapus.
Copyright © swaramuslim
 Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala